Haay, ini cerita pertama saya di blog ini :)
Enjoy Reading :D
Kenapa penyesalan selalu datang terlambat ? kenapa penyesalan gak datang di awal atau di tengah sebuah masalah ? kenapa selalu di akhir ?
Kini aku benar-benar menyesal, aku menyesal telah menyia-nyiakannya. Aku bukan teman yang baik, aku tak pantas di sebuat sahabat. Aku selalu kesal dengan setiap perbuatannya yang sering membuatku ilfeel. Tapi sekarang ? setelah dia gak ada ? aku kesepian, aku BENAR-BENAR kesepian. Apa yang di lakukannya selama ini juga untuk kebaikanku, aku ingin memutar waktu, aku ingin semuanya tak pernah terjadi. Aku ingin menjadi sahabat terbaik yang pernah ia miliki. Da 1 hal yang seharusnya aku sadari dari dulu. Yaitu, AKU MENCINTAINYA.
--
“stop, Ag. STOP !! lo gak usah sok peduli deh”
“Kka, gue sahabat lo, salah gue peduli sama lo ?!”
“lo gak salah Ag, tapi cara LO yang salah! Bilang aja lo iri sama Shilla karena sekarang dia sudah jadi milik gue”
“iya! Gue iri, PUAS LO !! lo sadar gak sih Kka ? semenjak lo pacaran sama dia, lo jadi jarang ada waktu buat gue dan sahabat lo yang lain”
“memang kenapa ?! wajarkan kalau gue lebih banyak ngeluangin waktu sama pacar gue”
“wajar Kka, wajar! Sangat wajar. Tapi apa sepenting itu Shilla dimata lo ketimbang kita ? Kka, persahab...”
“jangan pernah bilang Shilla penghancur persahabatan kita! Selama ini semuanya baik-baik aja, sampai LO sok-sokan nyadarin gue kalau SHILLA penghancur persahabatan kita” Cakka menatap Agni tajam “sekali lagi lo nyalahin Shilla, anggap kita gak pernah kenal”
Cakka meninggalkan Agni yang tengah terdiam sambil menahan tangis, benar-benar baru kali ini Cakka semarah ini sama dia.
“lo gak tau Shilla siapa Kka” lirih Agni dalam isakan.
--
Ntah apa yang membeluti pikiran Cakka tadi, kenapa dia bisa kehilangan control ?
“Agni benar, mungkin guenya aja tadi yang terlalu emosi. Gue akhir-akhir ini memang menjauh dari mereka” ucapnya sambil membaringkan tubuhnya di atas kasur.
drrtttt
from: ‘Ashilla’
Kkaaaa, jalan yuukk. Aku kangen sama kamu ({})
‘mungkin Agni benar di satu sisi, tapi Agni salah di sisi yang lainnya’ batin Cakka.
To: ‘Ashilla’
Sipp, wait me ya :*
--
Setelah Agni mencurahkan isi hatinya pada buku diary kesayangannya, tangis Agni tumpah bersamaan dengan sakit kepala yang beberapa bulan ini sudah menemani hari-harinya. Tapi ini sakit kepala yang sangat hebat. Agni terus menggeliat di atas kasur menahan sakit kepala yang di deritanya.
“AAAAAAAA” tiba-tiba Agni berteriak, dan itu sontak membuat pembantu Agni terlonjak kaget.
“non ? non gak papa ? buka pintunya non” teriak bi Inah dari luar kamar Agni.
“sakit biiii, kepala Agni sakit” Agni terus mengerang tak karuan layaknya orang yang kesurupan.
“non ?!” bi Inah semakin panik mendengar setiap teriakan Agni. “pak, dobrakin pintunya” pinta bi Inah pada suaminya yang merupakan supir pribadi Agni. Tapi belum sempat pak Jo mendobrak pintu kamar Agni, pintu itu sudah terbuka.
“Agni gak papa. Kalian kembali kerja aja. Jangan bilang sama mama sama papa” pesan Agni lalu menutup pintu kamarnya meninggalkan tanda tanya besar di kepala pak Jo sama bi Inah. Selang beberapa detik Agni mengunci pintu kamarnya sakit kepala itu kembali menyerang, dan akhirnya....
BRUKKK ...
--
Pagi ini Agni berjalan gontai menelusuri koridor sekolah ini. sebenarnya bi Inah sudah meminta padanya untuk tidak turun sekolah, dan bi Inah minta untuk Agni mengontrolkan dirinya pada dokter, takut terjadi sesuatu pada Agni. Dan untung saja Agni tak menolak permintaan bi Inah. Ya, Cuma bi Inah yang bisa di bilang peduli sama Agni. Bukan, bukan karena mama sama papa Agni tak sayang sama Agni. Cuma mereka terlalu sibuk aja. Setiap Agni berpikiran negatif pada orang tuanya, bi Inahlah yang selalu memberikan kata-kata positif pada Agni.
Sakit kepala ini gak mau hilang, dan pagi tadi Agni muntah. Kekenyangan ? Agni bahkan gak makan 1 hari kemaren. Bukan Cuma kemaren, tapi kemaren-kemarennya lagi juga Agni gak napsu buat makan. ntah apa yang di pikirkannya, semua makanan itu di tatapnya hambar. Meski perutnya sudah berkicau minta makan, Agni selalu menolak rasa itu. Alasan lainnya adalah, jika Agni makan, pasti akan di muntahin kembali.
Agni berjalan dengan lambat, dan tak lupa sesekali Agni memegang dinding koridor sekolah itu untuk mehanan tubuh mungilnya supaya tidak jatuh kelantai.
“Ag..” seseorang memanggil namanya dari belakang, seseorang yang kemaren telah membentaknya.
Agni menegakkan tubuhnya dan menoleh ke arah orang yang memanggilnya tadi, lalu kembali berjalan “ya Kka ? kenapa ?”
“gak papa, gue Cuma mau minta maaf aja sama lo pasal kemaren. Mau ya maafin gue ? gue khilaf, gue kehilangan kontrol” ucap Cakka yang berjalan sedikit di belakang Agni.
“lo gak perlu minta maaf, gue yang seharusnya minta maaf karena udah nuduh Shilla sembarangan. Maafin gue ya” balas Agni tanpa menatap Cakka sedikitpun. Di tutupnya kedua matanya seolah ingin menetralkan rasa sakit kepala itu.
Cakka tersenyum lalu mengangguk. Tiba-tiba langkah Agni terhenti. Cakka menatap Agni yang berdiam dengan tubuh bergetar.
“Ag...” tak ada respon dari Agni “Agnii..” Cakka menepuk 3x pundak Agni, namun tetap tak ada respon dari Agni. Cakka memajukan badannya dan berhenti tepat di depan Agni. Di angkatnya dagu Agni “lo sakit ?”
Agni hanya diam, “gue gak papa. Gue kekelas duluan ya” pamit Agni lalu mendorong pelan tubuh kekar Cakka.
“lo pucat Ag” ucap Cakka berbisik, dan hampir tak terdengar.
Agni terus berjalan menunduk sambil melihat telapak tangan kirinya yang benar-benar pucat. Lalu di genggamnya lagi dan berharap tak terjadi sesuatu pada dirinya hari ini.
--
Cakka menemani Shilla berbelanja di mall. Ya, hampir tiap hari inilah kerjaan Cakka. terkadang Cakka juga capek dengan tingkah laku Shilla. Jujur saja dia juga ingin sekali jalan sama Agni dan berkumpul sama Csnya.
Cakka baru saja mengantar Shilla pulang. Lampu merah, hal yang sangat Cakka benci. Habis ini Cakka ingin menjemput mamanya yang telah menjenguk tantenya yang sedang sakit. Sambil menunggu lampu hijau, Cakka mengambil Bbnya lalu ngePING seseorang.
CakkaNRG : PING!!
_AgniTN : apa ? geter-geter -_-
CakkaNRG : wkwk, gak papa :D gue kangen sama kalian.
_AgniTN : Heh ?! setan apa yang merasuki lo hari ni ? kenapa lo ?
CakkaNRG : sialan! Setan mbah Marijan mbak -_-
_AgniTN : jiahh, ngambek dia :D ampun masss. Gak ada balon ini.
CakkaNRG : gak ada balon, galon pun jadi :p eh, ngapain lo ?
_AgniTN : pantes badan lo subur :p haha. Ngapain ya ? Cuma jalan-jalan aja.
CakkaNRG : kedengarannya seperti mengolok. Tadi lo pucat, jangan jalan deh. Ntar lo tambah sakit.
_AgniTN : hehe, ampun. Gak papa itu :D hal biasa.
CakkaNRG : dasarrrr Agnooyy..
Setelah itu , tak ada lagi balasan dari Agni.
Cakka berjalan menerusuri koridor rumah sakit sambil memainkan kunci mobilnya di jarinya. Langkahnya terhenti ketika melihat seorang cewek berikat kuda dan berbaju biasa, ntah apa yang dia bicarakan tapi yang jelas dokter menyuruhnya kembali lagi lusa nanti.
“Agni ?”
--
“gimana non ? udah chek ? terus apa bilang dokter ?” tanya bi Inah begitu Agni turun dari mobil.
“kata dokter tunggu 3 hari lagi bi” balas Agni lalu masuk ke dalam rumah, dan ternyata di dalam rumah sudah ada mama dan papa Agni yang menunggu Agni sedari tadi.
“kamu kenapa Ag ?” tanya mama Agni begitu Agni sampai di ruang keluarga.
“maafin bibi non, bukan maksud bibi gak sayang sama non Agni, tapi bibi kasian lihat non Agni. Tuan sama nyonya juga harus tau keadaan non Agni, biar non Agni gak sendirian lagi” ucap bi Inah takut-takut. Agni hanya tersenyum.
“bibi, sama pak Jo ke dapur aja ya ?” pinta Agni, dan tak lamapun bi Inah sama pak Jo udah gak ada di tempat.
“Ag, jawab pertanyaan mama kamu” ucap papa Agni tegas.
“untuk apa ? sejak kapan mama sama papa peduli sama Agni ? bukannya selama ini mama sama papa selalu cuek bebek sama keadaan Agni ?”
“AGNI !!” peringat papa Agni.
“iyakan ? benerkan yang Agni bilang ? MAMA SAMA PAPA GAK PERNAH PEDULI LAGI SAMA AGNI” ucap Agni emosi.
“Agni, mama sama papa tuh sayang sama kamu” ujar mama Agni bergetar.
“iya, mama sama papa sayang sama Agni. Tapi itu DULU, sebelum mama sama papa sesibuk ini. Agni tau ma, Agni tau pa, apa yang kalian lakukan ini semua demi Agni. Tapi apa guna kalian cari uang mati-matiian kalau anak merasa di telantarkan ? Agni capek ma, pa. Agni kesepian. Agni iri sama teman-teman Agni yang selalu bisa liburan sama keluarga mereka. Sedangkan AGNI ?! AGNI kapan ma ? pa ? jangankan liburan, ulang tahuan Agni kemaren aja mama sama papa lupakan ?”
Mama Agni berjalan menuju Agni dan memeluk anak buah hatinya ini “maafin mama sama papa sayang” ucapnya sambil mengacak rambut hitam Agni.
--
Cakka ngerasa perubahan sikap Agni yang drastis 2 hari ini, dan ini membuat tanda tanya besar di kepala Cakka. Agni benar-benar berubah menjadi pendiam, bukan Cuma Cakka, Sivia dan Ify juga merasakan hal yang sama.
Hari ini Cakka kembali ke RS tempat tantenya di rawat, dan merupakan tempat dia melihat Agni, gadis yang di suruh dokter satang 3 hari lagi.
--
Hari ini Agni bertekad untuk pergi sendiri ke rumah sakit, tanpa pak Jo.
“gimana om ?” tanya Agni pada dokternya. (Re. Tuh dokter kenalan Agni ya)
“mama sama papa kamu mana Ag ? apa kamu gak ngasih tau mereka tentang ke adaan kamu ?” tanya dokter.
“mereka udah tau om, tapi Agni sengaja gak mengajak mereka”
Sang dokter hanya menarik napas panjang, “sebenarnya om sudah memprediksi(?)kan penyakit kamu, tapi om gak yakin” ucap sang dokter “tapi setelah om cek lagi, kamu positif sakittt .....”
Cakka yang sebenarnya menguping pembicara Agni sama sang dokter dari luar hanya bisa menahan shock.
“mama sama papa kamu harus tau Ag” ucap dokter sambil menenangkan Agni yang sudah mulai terisak “om tau ini terlalu berat buat kamu Ag, kamu masih terlalu muda untuk menderitanya”
“berapa lama lagi aku bertahan hidup om ?”
“om gak tau Ag, penyakit ini sepertinya udah lama ada diri kamu. om janji akan berusaha nyembuhin kamu Ag”
Setelah mendengar kata-kata itu Agni langsung berlari keluar ruangan, dan tak memedulikan omnya yang dari tadi memanggilnya.
--
Agni sedang duduk kantin RS dengan tatapan kosong. Sedih, sedih dan sedih. Kenapa ketika dia hampir mengembalikan kasih sayang keluarganya, dia malah menerima kenyataan yang pahit. Tuhan serasa gak adil di mata Agni saat ini.
“Tuhan.. ku ingin hidup sempurna, tak ada air mata yang terjatuh lagi. Semua, ku serahkan kepadamu, jalan yang terbaik, pasti untukku....” Cakka menghentikan nyanyiaannya lalu duduk di sampang Agni. “lo pasti sembuh Ag” ucapnya yang membuat Agni kaget “sorry, gue lihat dengar percakapan lo sama dokter Jonathan tadi” ucap Cakka.
Agni tak marah, malah tangisnya kembali tumpah “gue salah apa sih Kka ? kenapa gue bisa ngidap penyakit sialan ini ?”
“Ag, gak ada yang mau sakit. Ini semua takdir, lo yang sabar ya. Gue yakin lo pasti sembuh. Kita pulang aja yuk” ajak Cakka lalu menarik pelan tubuh Agni.
--
Cakka POV
Sudah beberapa hari ini Agni gak masuk sekolah. Sepertinya Agni depres berat. Kemarin aja kata Via sama Ify, dia tak ingin bertemu siapa-siapa dulu. Kalau aku tak menganggapnya sahabat, mungkin aku akan bilang dia anak yang malang. Tapi gak, aku yakin Agni pasti kuat, dan dia pasti sembuh.
Author POV
“Kka! Lo kenapa sih jadi sering melamun gini ? lo pasti lagi mikirin Agni kan ? kenapa sih Agni lagi, Agni lagi. Dia itu siapa sih ? atau jangan-jangan lo sukakan sama dia” marah Shilla.
“Shill, Agni sahabat gue. wajarkan kalau gue mikirin sama keadaanya yang sekarang ?” Cakka berdiri dari duduknya dengan tatapan elangnya “dan 1 lagi yang mau gue bilang ke lo. Kita.... PUTUS !” ucap Cakka lalu meinggalkan Shilla yang terdiam di tempat.
--
Hari ini Cakka berniat akan mengunjungi Agni ke rumahnya.
“Alvin ?” kaget Cakka begitu melihat Alvin di rumah Agni. Alvin adalah sahabat lainnya Agni, dan juga sahabatnya Shilla.
“loh ? Cakka ? ngapain lo di sini ?”
“gue ? jengukin Agni. Lo sendiiri ?”
“gue ? nemenin bokap gue. dia lagi meriksa Agni di dalam. Lo udah tau keadaan Agni ?” tanya Alvin heran. Pasalnya gak ada yang tau tentang penyakit Agni selain Mama papa Agni, pembantu Agni, dia, dan papanya.
“gue orang ke tiga setelah Tuhan sama papa lo tau tentang penyakit Agni” balas Cakka sinis.
“busett, gak usah sinis gitu bisa kali” nyolot Alvin lalu kembali memainkan pspnya. Sedangkan Cakka hanya mencibir gak jelas.
“Jonathan, sebenarnya Agni sudah berpa lama mengidap penyakit ini ?” tanya papa Agni pada pak Jonathan, ayah Alvin, dokternya Agni.
“aku juga gak terlalu tau sudah berapa lama. Cuma, apa kalian gak pernah nerima beberapa keluhan dari Agni ?”
“dulu dia sering ngeluh sakit kepala gitu, terus mual” jawab mama Agni dalam posisi dekapan papanya Agni.
“kemungkinan besar dia mengidapnya sudah selama itu. Biasanya gejala (serebral) umumnya, dapat di rasakan sama orang terdekat si penderita, seperti keluarga. Beberapa gejala (serebral) umumnya antara lain: mudah tersinggung, emosi, labil, pelupa, perlambatan aktivitas mental dan sosial, kehilangan inisiatif dan spontanitas, mungkin diketemukan ansietas dan depresi. Gejala ini berjalan progresif dan dapat dijumpai pada 2/3 kasus” balas dokter Jonathan (aku gak ngerti sama penyakit ini, aku Cuma ngopy -.-v)
Papa sama Mama Agni hanya bisa menarik napas panjang.
“malam om, tante” sapa Cakka begitu perbincangan antara papa Alvin sama mama dan papa Agni.
“eh, Cakka. ada apa Kka ?” tanya mama Agni.
“hmm, Cakka mau ketemu Agni tante. Boleh ?”
“boleh, Cuma kalau dia merasa keberatan. Kamu mohon keluar ya” pesan papa Agni “dan jangan sakit hati sama setiap kata-kata yang di keluarkannya” Cakka hanya mengangguk, lalu permisi.
Cakka membuka perlahan pintu kamar Agni, benar-benar berbau obat “Agni...” panggil Cakka, memastikan Agni gak marah karena dia lancang masuk ke kamar Agni.
“Cakka ?” Cakka tersenyum simpul begitu melihat reaksi Agni. Gak seperti yang dia takuti “lo ngapain ?” tanya Agni yang langsung membuat mood Cakka rusak.
“nyuci piring” jawab Cakka sambil duduk di kasur Agni.
“dih, ngambek. Jelek tau muka lo kayak gitu” ucap Agni tertawa kecil, sambil melempar bantal kecil yang ada di samping ke arah muka manyun Cakka.
“habis lo sih, udah ta..” belum sempat Cakka menyelesaikan ucapannya, pintu kamar Agni di buka sama seseorang yang di anggapnya rese. “eh sipit, ngapain lo masuk ?” tanya Cakka jutek pada Alvin.
Alvin yang merasa di panggil sipit hanya memandang rese Cakka “pacar lo lagi palang merah ya Ag ? dari tadi sensi aja sama gue” ucap Alvin kesal.
“haha, gak tau nih. Kayaknya sih gitu, diakan kelainan” ucap Agni tertawa kecil dan mampu membuat Cakka mencibir besar(?)
“puas lo berdua, puass. Sialan -_-“ ujar Cakka kesal.
Agni yang tadinya merasa sakit di kepalanya seketika bisa hilang karena tingkah Cakka dan Alvin “Kka, Vin. Thanks ya”
“atas ?” tanya Cakka dan Alvin serempak.
“atas-atasin aja. Sakit kepala gue hilang karena tingkah lo berdua”
“haha, ya dong. Ya gak Vin ? kitakan...”ucap Cakka lalu menirukan gaya sule dan andre yang ada di OVJ..
“apa ?” tanya mereka kebingungan dengan wajah tanpa dosa, dan itu sukses membuat Agni sakit perut menahan tawa.
--
Semenjak kejadian malam hari di rumah Agni itu, Agni gak terlalu memikirkan penyakitnya. Meski Agni sering banget terhitung ngedrop, tapi Agni setidaknya bisa tegar dari sebelumnya. Dia bisa kembali menjalankan berbagai aktifitasnya, seperti sekolah dan jalan-jalan. Namu dengan syarat, Agni harus di temani Cakka, Alvin, atau supirnya. Dan dia gak boleh capek. Sekali saja dia membuat kesalah fatal, itu bisa berpengaruh buruk bagi kesehatannya. Dan karena malam itu juga, Cakka dan Alvin mulai akur. Mereka seperti sepasang pengawal yang selalu menjaga Agni. Dan pasti berbagi tugas.
Hari ini Cakka akan berangkat keBandung, dia sudah pamit sama Agni di RS. Yap, Agni kemaren malam chek up, dan kata dokter kesehatannya menurun. Tapi sekarang sudah stabil. Dan dia juga sudah minta Alvin buat ngejagain Agni, dan juga nagbarin dia tentang kesehatan Agni.
“lo berapa hari di sana Kka ?” tanya Agni yang berbaring di atas bangsal rumah sakit itu.
“gue gak tau Ag, mungkin skitar 3 harian” jawab Cakka “lo yang baik ya, tunggu gue sampai gue kembali” pesan Cakka, sedangkan Agni hanya mengangguk.
“Vin, jujur gue berat ninggalin Agni sama lo. Gue gak yakin sama tampang lo” ucap Cakka sekenanya yang langsung dapat toyoran gratis dari Alvin “hehe, damai bro. Eh, tapi lo harus janji. Kabarin gue tentang perkembangan Agni” pinta Cakka “kalau bukan karena ada urusan, gue gak bakal ninggalin Agni ke Bandung”
“iya, lo tenang aja. Gue janji” ucap Alvin.
“Ag, gue pamit ya. Vin, awas lo ingkar janji. Tante, om, Cakka pamit ya” ucap Cakka lalu keluar meninggalkan RS itu dengan berat hati ‘jaga Agni Tuhan sampai aku kembali’ ucapnya dalam batin.
--
Dari perjalan sampai tujuan, pikiran Cakka hanya tertuju pada Agni, Agni dan Agni. Begitu pembinaan di mulai pun pikiran Cakka gak lepas dari Agni. Dia gak peduli dengan bentakan pembinanya karena sering melamun, yang dia pikirkan sekarang adalah, jam berapa pembinaan ini selesai ?
Setelah 4 jam lamanya, pembinaanpun akhirnya selesai, tanpa memikirkan apapun, Cakka langsung menelpon orang yang dari tadi memenuhi pikirannya.
“hallo Vin ?”
“iyaa Kka ? kenapa ?”
“gimana keadaan Agni ?”
“Baik. Kami lagi di rumahnya ni. Papa ngijinin dia pulang. Kndisinya udah stabil kata papa”
Cakka menarik napas lega “gue mau bicara sama Agni”
“hallo ? iya Kka ?”
“lo gak papakan Ag ?”
“seperti yang di bilang Alvin. Gue baik. Dan gue di ijinin pulang hari ini” balas Agni girang, dan membuat Cakka sangat bersyukur.
“syukur deh. Ooh ya, lo tungguin gue ya sampai pulang. Lusa gue pulang kok”
“iyaa Cakka. lo selesaikan aja dulu pembinaan lo di Bandung. Gue baik kok di sini. Eh, gue istirahat dulu ya. Lo bicara sama Alvin gih” Agni memberikan hp Alvin kembali pada Alvin “Hallo Kka ?”
“iya Vin ?”
“Kapan lo nyatain perasaan lo sama Agni. Nyatain seepatnya sebelum semuanya terlambat” pesan Alvin.
“lo jangan bikin gue was-was dong Vin. Nanti deh gue nyatain setelah pembinaan di sini” ucap Cakka khawatir.
“bukan maksud gue bikin lo was-was. Cuma gue gak mau semuanya nanti terlambat dan itu membuat lo nyesal seumur hidup”
“huhh, iya-iya. Eh gue istirahat juga ya. Gue mau ketemu Agni di alam mimpi” pamit Cakka.
“wuu, gombal lo. Ya udah, gue juga mau istirahat”
Cakka memtikan telponnya “jaga Agni Tuhan sampai aku kembali” doa Cakka malam itu.
--
Pagi ini Cakka merasakan sesuatu yang mengganjal, ntah apa itu. Terlebih lagi pagi tadi, Cakka dapat kabar, katanya Agni ngedrop lagi dan masuk RS lagi. Hari ini pembinaan cukup lama, dan parahnya gak boleh pegang hp. Dan itu sangat membuat Cakka kesal. Apapun yang sedang dia buat, doanya pada Tuhan hanya 1 ‘lindungi Agni sampai dia kembali’
18.45, Cakka baru selesai pembinaan. Pikirannya di kelilingin sama ke adaan Agni, dan mulutnya penuh dengan hujatan untuk para pembina.
22 panggilan tak terjawab dan 13 pesan masuk. Dan hebatnya, semua dari Alvin.
From: ‘Alvin’ 10.12
Kka, angkat telponnya...
From: ‘Alvin’ 11.20
KKA! Lo dimana sih ? angkat telponnya. Penting ini.
From: ‘Alvin’ 14.05
KKA! AGNI KOMA. ANGKAT TELPON GUE SEKARANG.....
From: ‘Alvin’ 13.00
JANGAN BIKIN LO MENYESAL. ANGKAT TELPON GUE...
Baru beberapa pesan yang Cakka baca, Bbnya berdering.
Alvin’s calling..
“LO DARI MANA AJA ?!! AGNI KOMA CAKKA” teriak Alvin penuh amarah begitu Cakka menerima telponnya.
“sorry Vin, gue lagi pembinaan tadi. Dan gak boleh bawa hp. Keadaan Agni gimana ?” tanya Cakka kawatir.
“Agni koma sejak tadi pagi, daya tahan tubuhnya melemah. Kata papa kita Cuma bisa berdoa untuk keselamatannya. Papa lagi berjuang di dalam. Kapan lo pulang Kka ?”
Cakka berdiam sebentar “SEKARANG!” ucapnya lal mengambil kunci mobilnya dan mulai melajukan mobilnya menuju Jakarta, dan dia gak mementingin setiap pertanyaan pembinanya.
“lindungin Agni Tuhan, selamatkan dia. Aku pulang Ag, aku kembali. pleasee, kuat” Cuma itu kalimat yang Cakka ucapkan selama perjalanan. Hujan dan petir memperlambat perjalanan Cakka, tapi tak mengurangi laju mobil yang Cakka jalankan.
Marah, sedih, takut, itu semua menutup mata Cakka yang sedang membawa laju sebuah mobil yasir. Derasnya hujan menutup pandangan Cakka, dan itu membuat Cakka tak melihat ada sebuah mobil yang juga berlawanan arah sedang melaju kencang. Hingga akhirnya Cakka kehilangan kendali dan membanting setir kearah kiri dan akhirnya menabrak pohon yang ada di sekitar jalan.
Kecelakaan itu membuat Cakka cukup lama tersadar dari telpon yang ada di BBnya
Drrttt... Drttt..
Drrrtt... Drttt..
Cakka mengarahkan pandangannya pada Bbnya yang sedari tadi bergetar di sampingnya..
Alvin’s calling..
“hallo Vin ? kenapa ? gimana keadaan Agni ?” tanya Cakka sedikit merasa pusing dengan benturan di kepalanya tadi.
“Agni Kka, Agni udah tenang” ucap Alvin bergetar.
“maksud lo ?”
“Agni udah gak ada Kka, dia milih ninggalin kita semua”
Tangis Cakka pecah, di tenggelamkannya kepalanya di lipatan tangannya. Tak ada suara dari Cakka maupun Alvin, yang terdengar hanya suara hujan yang deras..
“hallo nak Cakka ? nak Cakka yang sabar ya. Iklasin Agni, di audah tenang di sana. Dia pasti udah capek” terdengar suara tangisan mama Agni di telpon.
Ketakutan Cakka terbukti, Agni akan pergi untuk selamanya.
“Kapan lo nyatain perasaan lo sama Agni. Nyatain seepatnya sebelum semuanya terlambat”
“lo jangan bikin gue was-was dong Vin. Nanti deh gue nyatain setelah pembinaan di sini” ucap Cakka khawatir.
“bukan maksud gue bikin lo was-was. Cuma gue gak mau semuanya nanti terlambat dan itu membuat lo nyesal seumur hidup”
Tak ada satu katapun dari Cakka, hanya ingatan waktu Cakka bersama Agni..
--
Cakka dan Alvin ingin mewujudkan mimpi Agni yang ingan membentuk sebuah band. Cakka, Ray, Sivia, Alvin, Shilla, dan Ify membentuk sebuah band yang bernama S.I.B .. hari ini mereka akan bertemu dengan menenger mereka.
Canda tawa mereka yang awalnya menggema di penjuru cafe terhenti ketika melihat seorang perempuan berrambut hitam legam sebahu, dan memakai kaca mata hitam. Dan sepertinya, mereka seumuran.
Perempuan itu melihat ke arah Cakka, Ray, Sivia, Alvin, Shilla, dan Ify. “S.I.B ?” tanya perempuan itu, dan dapat anggukan dari Cakka, Ray, Sivia, Alvin, Shilla, dan Ify. Perempuan itu tersenyum lalu menaikan kaca matanya “kenalin, gue Agni. Dan gue bakal jadi meneger kalian” ucap perempuan itu yang langsung dapat tatapan shock dari mereka, sepintas mukanya sama kayak Agni yang mereka kenal. Tapi mereka yakin, ini bukan Agni yang dulu.
THE END ..