haay semuanyaaa sebelumnya, ada yang tau novel 'our story' gak? ceritanya bagus loh :) cerbung ini inspirasinya dari situ. aku emang sengaja pengen agni sama cakka yang meranin tokohnya. agak mirip sih inti ceritanya, tp gak papa lah ya hehe.
oke cekidootttt-->>
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sebelum pindah ke Jakarta, agni memang sempat bersekolah di Jogja dan tinggal disana bersama eyangnya. Sementara ayah dan bundanya tinggal di Jakarta. Orangtua agni memang pengusaha terkenal di Jakarta. Makadari itu, kesibukan orangtuanya kadang membuat agni jengkel sendiri. Jarang sekali ayah dan bundanya itu datang menjenguknya di Jogja. Mereka sibuk dengan bisnisnya. Tapi, sering sekali mereka menelpon agni sekedar mengetahui keadaannya. Tapi itu sama sekali tak membuat agni puas akan perhatian orangtuanya. Hingga suatu hari, ayahnya memutuskan untuk meminta agni pindah ke Jakarta dan tinggal bersama mereka. Agni tau, itu mungkin akan sama saja seperti dirinya di Jogja yang jarang sekali bertemu dengan ayah bundanya, tapi mungkin dengan menyetujui pindah ke Jakarta, seenggaknya agni bisa tinggal bersama mereka.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
‘Budi bangsa’
Agni masih memikirkan bagaimana sekolah itu. Sekolah barunya di Jakarta. Sebenarnya, ini adalah sekolah yang ditunjuk tantenya karna anaknya yaitu sivia, bersekolah disana juga. Agni dan sivia memang sudah akrab dari kecil. hanya saja karna saudara perempuannya itu tinggal di Jakarta, agni jadi jarang sekali bertemu dengannya.
“AGNIIIIIIII!!!” jerit seseorang dari teras depan rumah agni.
Agni yang sedang sarapan, hampir tersedak mendengar jeritan itu.
‘Dia ngga pernah berubah’ pikir agni.
Dari ruang tamu, munculah seorang gadis seumuran agni dengan seragam yang sama seperti yang dikenakannya saat itu. Dengan wajah yang riang, gadis itu menghampirinya kemudian memeluknya. Agni sampai kewalahan sendiri, hampir saja ia tersedak untuk yang kedua kalinya, karna saat itu ia masih meneguk segelas susu hangat. Gadis itupun buru-buru melepaskan pelukannya ketika agni benar-benar tersedak karena ulahnya.
“aduhh, sorry ag, gak sengaja” kata via -gadis itu- sambil mengusap-ngusap punggung agni.
“lo rempong amet sih jadi orang. Dari dulu gak pernah berubah lo, vi” kata agni sedikit terengah-engah.
“hehehe kan gue udah minta maaf, ag” via malah nyengir kuda. Agni menghela nafasnya pelan.
“lo sekarang berangkat bareng gue kan?” Tanya agni berganti topik.
“iyalah. Ngapain juga gue jauh-jauh kesini kalo bukan jemput lo”
“ya udah deh, berangkat sekarang aja yuk!” ajak agni sambil menyeka mulutnya dengan tissue. Ia kemudian meraih tasnya dan bersiap untuk berangkat.
“okeh. Tp emangnya lo gak pamit dulu?” Tanya via sebelum melangkah.
“sama siapa? Udah gak ada orang” kata agni yang melenggang kearah pintu depan. Via menyusulnya.
Tak sampai tiga menit, mobil sivia pun melesat meninggalkan pekarangan rumah agni yang memang sudah terlihat sepi. Di perjalanan, agni tak banyak mengeluarkan suara. Karna saat itu, hanya ada suara via yang meracau tanpa henti. Mulai dari pintu mobil ditutup, via sudah mengambil ancang-ancang bercerita. Awalnya, agni memang menanggapinya, karna via bercerita tentang sekolahnya yang kini akan menjadi sekolah agni juga. Tapi, yang namanya via, kalau ngga cerita dari A sampai Z rasanya tidak pernah afdol buat dia. Agni hanya menanggapinya seputar keadaannya saja. Selebihnya, ia melipat telinganya. Ia hanya merasa cukup tau saja. Kesananya, biar agni yang menilai bagaimana sekolah barunya itu.
Mobil sivia kini sudah terparkir. Mereka keluar secara bersamaan. Agni nampak memperhatikan keadaan sekitar, sementara via masih belum selesai dengan kicauannya. Ketika sampai di lapangan, bel terdengar nyaring, tanda pelajaran pertama akan segera di mulai. Via yang ikut mendengarnya sontak berhenti bercerita.
“aduh, gue kan hari ini ulangan matematika! Mampus!!” teriak via.
“ag, gue duluan ke kelas ya. Sorry gue gak bisa nganterin lo. Ruang kepsek udah deket kok. Yang itu!” kata via kemudian menunjuk kearah bangunan lantai tiga disebelah kanan lapangan.
“bye agni sayang. Hati-hati yaa!!!” kata via sambil berlari menuju ke kelasnya yang rupanya terletak di bangunan yang berbeda.
Agni hanya menatap saudara perempuannya itu geli. Setelah via menghilang memasuki gedung itu, agni berbalik badan. Dan batapa kagetnya agni saat itu mendapati segerombolan anak laki-laki yang berdiri menghalangi jalannya.
“anak baru ya?” Tanya salah seorang anak laki-laki itu.
“bukan” jawab agni setelah ia terdiam beberapa detik.
“kita tau ya, mana anak baru dan mana yang bukan. Jangan boong deh lo!” sahut anak laki-laki lainnya.
Jantung agni sedikit berdegup cepat. Ia merasa bukan seharusnya sekarang dia di plonco sebagai anak baru. Ia hanya belum siap.
Tiba-tiba segerombolan anak laki-laki itu berganti posisi, mereka membagi formasi menjadi dua bagian. Seolah memberikan jalur untuk orang yang kini sedang berjalan kearah agni. Anak laki-laki itu terlihat berjalan tenang melewati jalur yang sepertinya memang disediakan untuknya. Ditangan kanannya terlihat memegang sebuah tongkat baseball yang ujungnya disanggahkan dipundak kanannya. Agni mengakui kalau anak laki-laki yang sedang menghampirinya ini memang tampak ganteng. Tapi ia heran, kenapa orang ini terlihat seperti bos. Sungguh menjijikan.
“pindahan dari mana?” Tanya anak laki-laki itu setelah tepat berada dihadapan agni.
Sebenarnya agni tak mau menjawab dan menghiraukan laki-laki ini. Tapi, entah kenapa tatapannya begitu tajam seolah akan menusuk manik matanya.
“jogja” jawab agni seadanya. Ia benar-benar ingin segera pergi dari tempat itu.
“ngapain jauh-jauh dari jogja pindah kesini?” Tanya laki-laki itu seolah ingin tau semuanya. Agni yang sudah tak tahan, mencoba untuk mengacuhkannya.
“bukan urusan lo” jawab agni.
Benar-benar tak disangka, begitu mendengar jawaban agni tadi, anak laki-laki itu tersenyum tipis. Kemudian, berjalan perlahan mengelilingi tubuh agni. Ia tampak memutar-mutar tongkat baseballnya seperti sedang pemanasan. Jantung agni kembali berdegup. Lebih cepat dari sebelumnya. Anak laki-laki itu kemudian berhenti dihadapan agni dan mencondongkan wajahnya mendekati wajah agni. Agni terlihat sedikit menghindar.
“bagus. Gue suka cewek berani kaya lo” kata anak laki-laki itu. Agni mengernyitkan dahi.
“kelas berapa?” tanyanya lagi sambil menarik wajahnya menjauh dari agni.
“12”
“okee. See ya di kelas”
“belum tentu juga kita sekelas” ceplos agni.
Anak laki-laki yang tadinya hendak berbalik badan, mengurungkan niatnya begitu mendengar ucapan agni. Ia kembali menatap manic mata agni, lalu tersenyum.
“liat aja nanti” katanya kemudian berlalu diikuti gerombolan anak-anak tadi di belakangnya.
Entah kenapa, agni begitu jengkel dengan tatapannya. Senyumnya manis, tapi begitu pahit untuk diartikan. Tanpa peduli lebih lama, agni langsung pergi menuju ruang kepala sekolah yang memang menjadi tujuan pertamanya.
Di sisi lain, ternyata anak laki-laki beserta CS-nya tengah memperhatikan agni dari kejauhan.
“jangan ada yang ganggu dia” ucapnya.
“dia milik gue!” lanjutnya lagi.
“okee bosss!!” jawab anak-anak lainnya serempak.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“nah, ini adalah kelasmu, nak” ucap pak kepala sekolah sambil berhenti tepat di depan pintu kelas XII ipa 7.
Agni terlihat sedikit ragu. Tapi, kemudian kepala sekolah itupun mengajaknya masuk. Anak-anak yang tadinya ramai, tiba-tiba terdiam begitu menyadari kehadiran agni. Agni berusaha mencari keberadaan via di kelas itu, siapa tau saja dia sekelas dengan via. Tapi, begitu tatapannya berhenti di bangku paling ujung, matanya seketika membulat. Benar-benar tak menyangka bisa sekelas dengan laki-laki yang sempat bertemu di lapangan tadi, begitu juga dengan gerombolannya. Laki-laki itu tampak melambaikan tangannya sambil tersenyum manis menjijikan. Agni menghela nafas berat. Kemudian ia menoleh kearah kepala sekolahnya.
“pak, saya boleh pindah kelas ngga?” Tanyanya yang sontak membuat seisi kelas tertawa.
“bukannya tidak boleh. Tapi kelas lain sudah mencukupi kapasitas. Jadi kamu tetap dikelas ini” ucap pak kepala sekolah tersebut. Agni sedikit kecewa mendengarnya.
“sebaiknya sekarang perkenalkan dirimu” kata pak kepala sekolah lagi.
Dengan sedikit kecewa, agnipun mengangguk. Kemudian ia menatap semua anak-anak kelas itu. Masing-masing dari mereka menunjukkan ekspresi yang berbeda. Anak laki-laki malah menggodanya, sedangkan anak perempuan ada yang cuek, jutek, bahkan sinis ketika menatapnya.
“nama saya Agni. Pindahan dari Jogja” ucapnya sedikit tanpa jeda.
“udah? Gitu doang? Gak ada yang lain?” teriak salah satu anak laki-laki, Ray.
“maunya apa? Tanggal lahir, zodiac, hoby, cita-cita, alamat rumah, e-mail, nomer handphone?” kata agni jengkel.
“wah boleh juga tuh. Terutama sih nomer hape sama alamat rumah paling penting” teriak goldi.
“paling juga si Goldi ntar datang kerumah lo, terus minta makanan sisa!! hahhaaha” timpal Gabriel yang iringi gelak tawa yang lainnya.
Agni sebenarnya risih mendengarnya. Tapi ketika itu, ia tak sengaja menangkap sosok laki-laki itu hanya terdiam sambil tersenyum simpul. Tidak seperti anak-anak lainnya. Agni jadi heran sendiri.
“sudah-sudah! Agni, silahkan kamu cari tempat dudukmu. Selamat belajar” ucap pak kepala sekolah sambil berlalu meninggalkan kelas itu.
Seketika, kelas itupun kembali ramai. Entah karna kehadiran agni yang membuat rusuh anak-anak, atau memang kelas ini selalu ramai setiap hari? Agni juga tidak tau.
“sayyy, duduk sini ajaa!” panggil Ray sambil menunjukkan bangku yang berada disamping ‘laki-laki’ itu.
Agni tampak ragu. Ia malah menatap sekelilingnya, ternyata semua bangku sudah terisi.
‘ya ampun’ keluh agni dalam hati. Mau tak mau agni mesti duduk sebangku dengan laki-laki itu.
Agni menghampiri tempat duduknya. Kemudian duduk tak bergairah. Ia berusaha untuk bersikap sebiasa mungkin. Ia menatap sekitarnya, kemudian ia mencoba tersenyum ramah pada kaum hawa yang menatapnya tadi dengan sinis, tapi mereka malah membuang muka begitu agni mencoba tersenyum ramah.
“cuekin aja. Zahra emang suka sirik kalo ada yang lebih cakep” kata laki-laki disamping agni.
Agnipun menoleh.
“gue cakka!” kata anak laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya.
Agni sedikit ragu untuk menyambut uluran tangannya. Tapi akhirnya ia menjabatnya juga.
“agni” ucapnya.
“gue udah tau. Tadi kan lo bilang di depan” kata cakka. Agni mendengus.
“yakali elo ngga denger. Gaada salahnya gue ulangin” kata agni yang membuat cakka tersenyum simpul.
Cakka pun beranjak dari tempat duduknya sambil menenteng tongkat baseballnya dengan diiringi para cs-nya. Sepertinya dia memang ketua geng disini.
“eh, lo mau kemana?” teriak agni, begitu cakka sampai di depan pintu kelas.
“ini kan masih jam pelajaran” lanjut agni. Cakka menoleh kepadanya.
“lo liat ada pelajaran?” Tanya cakka.
Agni melirik kearah tempat guru didepan kelas, tak ada siapapun disitu. Sekali lagi, cakka hanya tersenyum. Kali ini terlihat seperti ejekan. Kemudian ia berlalu bersama anak gengnya. Agni hanya merengut.
“murid macam apa tuh anak? Siapa tau aja gurunya telat. Seenaknya aja keluar-keluar kelas” gerutu agni.
“dia emang biasa kok kaya gitu. Nyantai aja. Guru juga gak bakal berani marahin dia” kata anak perempuan dibarisan depan yang kini menghampirinya.
“gue Raissa. Panggil aja acha” katanya sambil duduk diatas meja agni.
“emang dia siapa? Kaya anak yang paling berkuasa aja” kata agni heran.
“ntar juga lo tau sendiri kok” kata acha sambil tersenyum.
“eh, lo kok bisa pindah kesini sih? Padahal kan tanggung Cuma setahun doang” Tanya acha kemudian.
“disuruh pindah aja sama ayah” jawab agni ramah. Sementara acha hanya mengangguk mengerti.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“pasti elo kan yang kemaren berani ngebocorin ban motornya si boss?!! Ngaku gak lo?” teriak goldi dihadapan seorang anak kelas sebelas ditengah lapang.
Goldi memang mewakili cakka untuk menghakimi anak itu. Sementara cakka duduk santai sambil memainkan tongkat baseballnya. Cakka memang terkenal cuek, seenaknya, dan semua aturan dia ‘berlaku’, dia tidak suka di bantah, dia tidak suka di tantang, dia tidak suka dengan orang pengecut, dan dia tidak suka ada orang yang mencampuri urusannya tanpa seizin dia.
Sementara goldi sedang menghakimi anak itu, anggota lainnya terlihat berdiri membuat pagar betis disekelilingnya. Anak itu tidak sedikitpun bersuara. Bahkan bercicitpun ia terlihat tak berani. Ia hanya menunduk.
“cepetan ngaku! Mau gue gampar lo, hah??!” ancam goldi.
“a.. ampun kak. Saya minta maaf. S..saya janji gak akan mengulanginya lagi” kata anak itu terbata-bata.
Mendengar jawaban anak itu, goldi menghampiri cakka.
“dia yang ngelakuinnya bos! Mau diapain tuh anak?” lapor goldi.
Cakka yang tadi duduk santai, kini beranjak dan menghampiri ke tengah lapangan.
“kalo elo, emang gasuka sama gue, bilang langsung sama gue! Mungkin nasib lo gak akan kaya gini” kata cakka sambil terus memutar-mutar tongkat baseballnya. Anak itu semakin gemetar dibuatnya.
“lo tau? Gue gak suka orang pengecut. Lo bisa aja bocorin ban motor gue, tapi gue bisa bikin kepala lo bocor sekarang juga…” kata cakka yang kini mengayun-ayunkan tongkat baseballnya tepat dikepala anak itu. Berancang-ancang mencari jarak yang tepat untuk menghantamnya.
Saat itu, waktunya istirahat. Agni yang sibuk pontang-panting mencari keberadaan via, dikegetkan dengan kejadian yang sedang berlangsung dilapangan.
Cakka yang tengah sibuk menentukan jarak saat itu, tiba-tiba berhenti dan menurunkan tongkatnya sejenak. Kemudian dia berbalik menghadap anggotanya yang berada di belakangnya.
“kira-kira lo semua pada setuju gak kalo nih anak gue bikin kepalanya bocor detik ini juga?” Tanya cakka.
“hajar aja boss!”
“kita bersedia kok nonton aksi kepala bocor kena hantam tongkat baseball! haha”
“STOOOPPP!!!” tiba-tiba saja ada yang berteriak dibelakang cakka. Cakkapun menoleh.
tobecontinueddddddd:)
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
oke cekidootttt-->>
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sebelum pindah ke Jakarta, agni memang sempat bersekolah di Jogja dan tinggal disana bersama eyangnya. Sementara ayah dan bundanya tinggal di Jakarta. Orangtua agni memang pengusaha terkenal di Jakarta. Makadari itu, kesibukan orangtuanya kadang membuat agni jengkel sendiri. Jarang sekali ayah dan bundanya itu datang menjenguknya di Jogja. Mereka sibuk dengan bisnisnya. Tapi, sering sekali mereka menelpon agni sekedar mengetahui keadaannya. Tapi itu sama sekali tak membuat agni puas akan perhatian orangtuanya. Hingga suatu hari, ayahnya memutuskan untuk meminta agni pindah ke Jakarta dan tinggal bersama mereka. Agni tau, itu mungkin akan sama saja seperti dirinya di Jogja yang jarang sekali bertemu dengan ayah bundanya, tapi mungkin dengan menyetujui pindah ke Jakarta, seenggaknya agni bisa tinggal bersama mereka.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
‘Budi bangsa’
Agni masih memikirkan bagaimana sekolah itu. Sekolah barunya di Jakarta. Sebenarnya, ini adalah sekolah yang ditunjuk tantenya karna anaknya yaitu sivia, bersekolah disana juga. Agni dan sivia memang sudah akrab dari kecil. hanya saja karna saudara perempuannya itu tinggal di Jakarta, agni jadi jarang sekali bertemu dengannya.
“AGNIIIIIIII!!!” jerit seseorang dari teras depan rumah agni.
Agni yang sedang sarapan, hampir tersedak mendengar jeritan itu.
‘Dia ngga pernah berubah’ pikir agni.
Dari ruang tamu, munculah seorang gadis seumuran agni dengan seragam yang sama seperti yang dikenakannya saat itu. Dengan wajah yang riang, gadis itu menghampirinya kemudian memeluknya. Agni sampai kewalahan sendiri, hampir saja ia tersedak untuk yang kedua kalinya, karna saat itu ia masih meneguk segelas susu hangat. Gadis itupun buru-buru melepaskan pelukannya ketika agni benar-benar tersedak karena ulahnya.
“aduhh, sorry ag, gak sengaja” kata via -gadis itu- sambil mengusap-ngusap punggung agni.
“lo rempong amet sih jadi orang. Dari dulu gak pernah berubah lo, vi” kata agni sedikit terengah-engah.
“hehehe kan gue udah minta maaf, ag” via malah nyengir kuda. Agni menghela nafasnya pelan.
“lo sekarang berangkat bareng gue kan?” Tanya agni berganti topik.
“iyalah. Ngapain juga gue jauh-jauh kesini kalo bukan jemput lo”
“ya udah deh, berangkat sekarang aja yuk!” ajak agni sambil menyeka mulutnya dengan tissue. Ia kemudian meraih tasnya dan bersiap untuk berangkat.
“okeh. Tp emangnya lo gak pamit dulu?” Tanya via sebelum melangkah.
“sama siapa? Udah gak ada orang” kata agni yang melenggang kearah pintu depan. Via menyusulnya.
Tak sampai tiga menit, mobil sivia pun melesat meninggalkan pekarangan rumah agni yang memang sudah terlihat sepi. Di perjalanan, agni tak banyak mengeluarkan suara. Karna saat itu, hanya ada suara via yang meracau tanpa henti. Mulai dari pintu mobil ditutup, via sudah mengambil ancang-ancang bercerita. Awalnya, agni memang menanggapinya, karna via bercerita tentang sekolahnya yang kini akan menjadi sekolah agni juga. Tapi, yang namanya via, kalau ngga cerita dari A sampai Z rasanya tidak pernah afdol buat dia. Agni hanya menanggapinya seputar keadaannya saja. Selebihnya, ia melipat telinganya. Ia hanya merasa cukup tau saja. Kesananya, biar agni yang menilai bagaimana sekolah barunya itu.
Mobil sivia kini sudah terparkir. Mereka keluar secara bersamaan. Agni nampak memperhatikan keadaan sekitar, sementara via masih belum selesai dengan kicauannya. Ketika sampai di lapangan, bel terdengar nyaring, tanda pelajaran pertama akan segera di mulai. Via yang ikut mendengarnya sontak berhenti bercerita.
“aduh, gue kan hari ini ulangan matematika! Mampus!!” teriak via.
“ag, gue duluan ke kelas ya. Sorry gue gak bisa nganterin lo. Ruang kepsek udah deket kok. Yang itu!” kata via kemudian menunjuk kearah bangunan lantai tiga disebelah kanan lapangan.
“bye agni sayang. Hati-hati yaa!!!” kata via sambil berlari menuju ke kelasnya yang rupanya terletak di bangunan yang berbeda.
Agni hanya menatap saudara perempuannya itu geli. Setelah via menghilang memasuki gedung itu, agni berbalik badan. Dan batapa kagetnya agni saat itu mendapati segerombolan anak laki-laki yang berdiri menghalangi jalannya.
“anak baru ya?” Tanya salah seorang anak laki-laki itu.
“bukan” jawab agni setelah ia terdiam beberapa detik.
“kita tau ya, mana anak baru dan mana yang bukan. Jangan boong deh lo!” sahut anak laki-laki lainnya.
Jantung agni sedikit berdegup cepat. Ia merasa bukan seharusnya sekarang dia di plonco sebagai anak baru. Ia hanya belum siap.
Tiba-tiba segerombolan anak laki-laki itu berganti posisi, mereka membagi formasi menjadi dua bagian. Seolah memberikan jalur untuk orang yang kini sedang berjalan kearah agni. Anak laki-laki itu terlihat berjalan tenang melewati jalur yang sepertinya memang disediakan untuknya. Ditangan kanannya terlihat memegang sebuah tongkat baseball yang ujungnya disanggahkan dipundak kanannya. Agni mengakui kalau anak laki-laki yang sedang menghampirinya ini memang tampak ganteng. Tapi ia heran, kenapa orang ini terlihat seperti bos. Sungguh menjijikan.
“pindahan dari mana?” Tanya anak laki-laki itu setelah tepat berada dihadapan agni.
Sebenarnya agni tak mau menjawab dan menghiraukan laki-laki ini. Tapi, entah kenapa tatapannya begitu tajam seolah akan menusuk manik matanya.
“jogja” jawab agni seadanya. Ia benar-benar ingin segera pergi dari tempat itu.
“ngapain jauh-jauh dari jogja pindah kesini?” Tanya laki-laki itu seolah ingin tau semuanya. Agni yang sudah tak tahan, mencoba untuk mengacuhkannya.
“bukan urusan lo” jawab agni.
Benar-benar tak disangka, begitu mendengar jawaban agni tadi, anak laki-laki itu tersenyum tipis. Kemudian, berjalan perlahan mengelilingi tubuh agni. Ia tampak memutar-mutar tongkat baseballnya seperti sedang pemanasan. Jantung agni kembali berdegup. Lebih cepat dari sebelumnya. Anak laki-laki itu kemudian berhenti dihadapan agni dan mencondongkan wajahnya mendekati wajah agni. Agni terlihat sedikit menghindar.
“bagus. Gue suka cewek berani kaya lo” kata anak laki-laki itu. Agni mengernyitkan dahi.
“kelas berapa?” tanyanya lagi sambil menarik wajahnya menjauh dari agni.
“12”
“okee. See ya di kelas”
“belum tentu juga kita sekelas” ceplos agni.
Anak laki-laki yang tadinya hendak berbalik badan, mengurungkan niatnya begitu mendengar ucapan agni. Ia kembali menatap manic mata agni, lalu tersenyum.
“liat aja nanti” katanya kemudian berlalu diikuti gerombolan anak-anak tadi di belakangnya.
Entah kenapa, agni begitu jengkel dengan tatapannya. Senyumnya manis, tapi begitu pahit untuk diartikan. Tanpa peduli lebih lama, agni langsung pergi menuju ruang kepala sekolah yang memang menjadi tujuan pertamanya.
Di sisi lain, ternyata anak laki-laki beserta CS-nya tengah memperhatikan agni dari kejauhan.
“jangan ada yang ganggu dia” ucapnya.
“dia milik gue!” lanjutnya lagi.
“okee bosss!!” jawab anak-anak lainnya serempak.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“nah, ini adalah kelasmu, nak” ucap pak kepala sekolah sambil berhenti tepat di depan pintu kelas XII ipa 7.
Agni terlihat sedikit ragu. Tapi, kemudian kepala sekolah itupun mengajaknya masuk. Anak-anak yang tadinya ramai, tiba-tiba terdiam begitu menyadari kehadiran agni. Agni berusaha mencari keberadaan via di kelas itu, siapa tau saja dia sekelas dengan via. Tapi, begitu tatapannya berhenti di bangku paling ujung, matanya seketika membulat. Benar-benar tak menyangka bisa sekelas dengan laki-laki yang sempat bertemu di lapangan tadi, begitu juga dengan gerombolannya. Laki-laki itu tampak melambaikan tangannya sambil tersenyum manis menjijikan. Agni menghela nafas berat. Kemudian ia menoleh kearah kepala sekolahnya.
“pak, saya boleh pindah kelas ngga?” Tanyanya yang sontak membuat seisi kelas tertawa.
“bukannya tidak boleh. Tapi kelas lain sudah mencukupi kapasitas. Jadi kamu tetap dikelas ini” ucap pak kepala sekolah tersebut. Agni sedikit kecewa mendengarnya.
“sebaiknya sekarang perkenalkan dirimu” kata pak kepala sekolah lagi.
Dengan sedikit kecewa, agnipun mengangguk. Kemudian ia menatap semua anak-anak kelas itu. Masing-masing dari mereka menunjukkan ekspresi yang berbeda. Anak laki-laki malah menggodanya, sedangkan anak perempuan ada yang cuek, jutek, bahkan sinis ketika menatapnya.
“nama saya Agni. Pindahan dari Jogja” ucapnya sedikit tanpa jeda.
“udah? Gitu doang? Gak ada yang lain?” teriak salah satu anak laki-laki, Ray.
“maunya apa? Tanggal lahir, zodiac, hoby, cita-cita, alamat rumah, e-mail, nomer handphone?” kata agni jengkel.
“wah boleh juga tuh. Terutama sih nomer hape sama alamat rumah paling penting” teriak goldi.
“paling juga si Goldi ntar datang kerumah lo, terus minta makanan sisa!! hahhaaha” timpal Gabriel yang iringi gelak tawa yang lainnya.
Agni sebenarnya risih mendengarnya. Tapi ketika itu, ia tak sengaja menangkap sosok laki-laki itu hanya terdiam sambil tersenyum simpul. Tidak seperti anak-anak lainnya. Agni jadi heran sendiri.
“sudah-sudah! Agni, silahkan kamu cari tempat dudukmu. Selamat belajar” ucap pak kepala sekolah sambil berlalu meninggalkan kelas itu.
Seketika, kelas itupun kembali ramai. Entah karna kehadiran agni yang membuat rusuh anak-anak, atau memang kelas ini selalu ramai setiap hari? Agni juga tidak tau.
“sayyy, duduk sini ajaa!” panggil Ray sambil menunjukkan bangku yang berada disamping ‘laki-laki’ itu.
Agni tampak ragu. Ia malah menatap sekelilingnya, ternyata semua bangku sudah terisi.
‘ya ampun’ keluh agni dalam hati. Mau tak mau agni mesti duduk sebangku dengan laki-laki itu.
Agni menghampiri tempat duduknya. Kemudian duduk tak bergairah. Ia berusaha untuk bersikap sebiasa mungkin. Ia menatap sekitarnya, kemudian ia mencoba tersenyum ramah pada kaum hawa yang menatapnya tadi dengan sinis, tapi mereka malah membuang muka begitu agni mencoba tersenyum ramah.
“cuekin aja. Zahra emang suka sirik kalo ada yang lebih cakep” kata laki-laki disamping agni.
Agnipun menoleh.
“gue cakka!” kata anak laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya.
Agni sedikit ragu untuk menyambut uluran tangannya. Tapi akhirnya ia menjabatnya juga.
“agni” ucapnya.
“gue udah tau. Tadi kan lo bilang di depan” kata cakka. Agni mendengus.
“yakali elo ngga denger. Gaada salahnya gue ulangin” kata agni yang membuat cakka tersenyum simpul.
Cakka pun beranjak dari tempat duduknya sambil menenteng tongkat baseballnya dengan diiringi para cs-nya. Sepertinya dia memang ketua geng disini.
“eh, lo mau kemana?” teriak agni, begitu cakka sampai di depan pintu kelas.
“ini kan masih jam pelajaran” lanjut agni. Cakka menoleh kepadanya.
“lo liat ada pelajaran?” Tanya cakka.
Agni melirik kearah tempat guru didepan kelas, tak ada siapapun disitu. Sekali lagi, cakka hanya tersenyum. Kali ini terlihat seperti ejekan. Kemudian ia berlalu bersama anak gengnya. Agni hanya merengut.
“murid macam apa tuh anak? Siapa tau aja gurunya telat. Seenaknya aja keluar-keluar kelas” gerutu agni.
“dia emang biasa kok kaya gitu. Nyantai aja. Guru juga gak bakal berani marahin dia” kata anak perempuan dibarisan depan yang kini menghampirinya.
“gue Raissa. Panggil aja acha” katanya sambil duduk diatas meja agni.
“emang dia siapa? Kaya anak yang paling berkuasa aja” kata agni heran.
“ntar juga lo tau sendiri kok” kata acha sambil tersenyum.
“eh, lo kok bisa pindah kesini sih? Padahal kan tanggung Cuma setahun doang” Tanya acha kemudian.
“disuruh pindah aja sama ayah” jawab agni ramah. Sementara acha hanya mengangguk mengerti.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“pasti elo kan yang kemaren berani ngebocorin ban motornya si boss?!! Ngaku gak lo?” teriak goldi dihadapan seorang anak kelas sebelas ditengah lapang.
Goldi memang mewakili cakka untuk menghakimi anak itu. Sementara cakka duduk santai sambil memainkan tongkat baseballnya. Cakka memang terkenal cuek, seenaknya, dan semua aturan dia ‘berlaku’, dia tidak suka di bantah, dia tidak suka di tantang, dia tidak suka dengan orang pengecut, dan dia tidak suka ada orang yang mencampuri urusannya tanpa seizin dia.
Sementara goldi sedang menghakimi anak itu, anggota lainnya terlihat berdiri membuat pagar betis disekelilingnya. Anak itu tidak sedikitpun bersuara. Bahkan bercicitpun ia terlihat tak berani. Ia hanya menunduk.
“cepetan ngaku! Mau gue gampar lo, hah??!” ancam goldi.
“a.. ampun kak. Saya minta maaf. S..saya janji gak akan mengulanginya lagi” kata anak itu terbata-bata.
Mendengar jawaban anak itu, goldi menghampiri cakka.
“dia yang ngelakuinnya bos! Mau diapain tuh anak?” lapor goldi.
Cakka yang tadi duduk santai, kini beranjak dan menghampiri ke tengah lapangan.
“kalo elo, emang gasuka sama gue, bilang langsung sama gue! Mungkin nasib lo gak akan kaya gini” kata cakka sambil terus memutar-mutar tongkat baseballnya. Anak itu semakin gemetar dibuatnya.
“lo tau? Gue gak suka orang pengecut. Lo bisa aja bocorin ban motor gue, tapi gue bisa bikin kepala lo bocor sekarang juga…” kata cakka yang kini mengayun-ayunkan tongkat baseballnya tepat dikepala anak itu. Berancang-ancang mencari jarak yang tepat untuk menghantamnya.
Saat itu, waktunya istirahat. Agni yang sibuk pontang-panting mencari keberadaan via, dikegetkan dengan kejadian yang sedang berlangsung dilapangan.
Cakka yang tengah sibuk menentukan jarak saat itu, tiba-tiba berhenti dan menurunkan tongkatnya sejenak. Kemudian dia berbalik menghadap anggotanya yang berada di belakangnya.
“kira-kira lo semua pada setuju gak kalo nih anak gue bikin kepalanya bocor detik ini juga?” Tanya cakka.
“hajar aja boss!”
“kita bersedia kok nonton aksi kepala bocor kena hantam tongkat baseball! haha”
“STOOOPPP!!!” tiba-tiba saja ada yang berteriak dibelakang cakka. Cakkapun menoleh.
tobecontinueddddddd:)
---------------------------------------------------------------------------------------------------------















